Puah dalam Silsilah Alkitab


Ringkasan Kunci
Puah adalah tokoh genealogis yang disebutkan dalam kitab Kejadian, sebagai salah satu keturunan Shem setelah banjir Nuh. Nama Puah berarti ‘pembukaan’ atau ‘permulaan’, menandakan perannya sebagai mata rantai penting yang menghubungkan generasi awal dengan garis keturunan bangsa Israel.
Informasi Singkat
Detail:Puah tercatat sebagai anak Arphaxad, putra Shem, dalam silsilah yang terdapat pada Kejadian 10:25 dan 11:12‑13. Ia hidup pada masa pasca‑banjir, ketika umat manusia mulai mengisi kembali bumi yang baru. Nama Puah muncul dalam teks Ibrani sebagai פוּאָה, yang secara harfiah diartikan sebagai ‘pembuka’ atau ‘pintu masuk’.
Detail:Puah menjadi ayah dari Salph (atau Salphah), yang selanjutnya melahirkan Eber, leluhur bangsa Ibrani. Dengan demikian, Puah berada di antara generasi yang menyiapkan tanah bagi munculnya tokoh‑tokoh penting seperti Abram (Abraham). Meskipun tidak ada narasi khusus tentang kehidupannya, keberadaannya menegaskan kesinambungan rencana Allah dalam sejarah manusia.
Detail:Dari sudut pandang teologis, Puah menegaskan bahwa setiap nama dalam silsilah memiliki tujuan ilahi. Kehadirannya memperlihatkan bahwa Allah tidak hanya mengatur peristiwa besar seperti penciptaan dan penebusan, tetapi juga memperhatikan detail-detail kecil dalam rantai keturunan yang menuntun pada Mesias.
⚡ Peristiwa Penting & Kronologi
Pasca Banjir Nuh – Puah lahir pada masa pemulihan umat manusia setelah air bah melanda bumi (Kejadian 9‑10).
Kelahiran Puah – Ia menjadi anak Arphaxad, yang sendiri adalah cucu Shem, menandai generasi ketiga setelah Nuh.
Kelahiran Salph – Puah memperanakkan Salph, yang kemudian menjadi ayah Eber, tokoh penting dalam silsilah Ibrani.
Transisi ke Eber – Melalui Salph, garis keturunan bergerak menuju Eber, yang disebutkan sebagai nenek moyang bangsa-bangsa Semit.
Koneksi ke Abraham – Dari Eber, silsilah berlanjut ke Peleg, Reu, Serug, Nahor, Terah, dan akhirnya Abraham, pendiri perjanjian Allah dengan Israel.
🌱 Pelajaran Rohani & Penerapan
Puah mengajarkan bahwa setiap individu, sekecil apapun peranannya dalam sejarah, memiliki tempat dalam rencana Allah yang lebih besar. Dalam kehidupan sehari‑hari, kita dipanggil untuk menyadari bahwa tindakan‑tindakan kita dapat menjadi ‘pembukaan’ bagi generasi berikutnya. Seperti Puah yang menyiapkan jalur bagi keturunan Abraham, orang percaya kini dipanggil menjadi agen pembaruan, menyiapkan lingkungan rohani yang memungkinkan orang lain mendengar Injil. Kesetiaan pada panggilan kecil sekalipun, bila dilakukan dengan iman, berkontribusi pada karya keselamatan Allah yang melintasi zaman.
📖 Daftar Ayat Referensi
Sumber & Batasan Informasi
Artikel ensiklopedia ini disusun secara eksklusif berdasarkan teks Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Platform ini menghindari spekulasi sejarah eksternal atau tradisi sekuler non-alkitabiah guna menjaga kemurnian dan ketepatan materi teologis untuk studi Anda.