Grace Daily
Teologi

Konsep Gereja Menurut Perjanjian Lama ("Umat yang Dipanggil Keluar: Akar Konsep Gereja dalam Perjanjian Lama").

Tius 88
Bagikan
Konsep Gereja Menurut Perjanjian Lama ("Umat yang Dipanggil Keluar: Akar Konsep Gereja dalam Perjanjian Lama").
Grace Daily Studi Alkitab • Menelusuri Fondasi Perjanjian Lama bagi Gereja Mula-mula

Umat yang Dipanggil Keluar: Akar Konsep Gereja dalam Perjanjian Lama

"Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Itulah firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel." Keluaran 19:6

Ketika mendengar kata "gereja", pikiran kita sering kali langsung tertuju pada bangunan berasitektur salib, ibadah hari Minggu, atau komunitas Perjanjian Baru yang didirikan setelah peristiwa Pentakosta. Memang benar bahwa kata Yunani Ekklesia (yang berarti "dipanggil keluar") secara eksplisit digunakan di Perjanjian Baru. Namun, secara teologis, konsep gereja tidak muncul dari ruang hampa. Akar, identitas, dan esensi gereja sebagai umat Allah telah ditanam secara mendalam sejak berabad-abad sebelumnya di dalam lembaran Perjanjian Lama.

Untuk memahami esensi gereja yang sesungguhnya hari ini, kita harus melangkah mundur melihat bagaimana Allah membentuk, menguduskan, dan mendiami umat pilihan-Nya pada masa lampau. Perjanjian Lama menyediakan cetak biru (blueprint) spiritual mengenai apa artinya menjadi umat milik kepunyaan Allah sendiri.

Qahal dan Ekklesia: Jemaat di Padang Gurun

Di dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama), terdapat sebuah kata krusial yang menjadi cikal bakal teologis dari kata "gereja", yaitu Qahal. Kata ini merujuk pada suatu kumpulan, perhimpunan, atau jemaat yang berkumpul karena dipanggil oleh Allah untuk tujuan kudus. Ketika Alkitab Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta), kata Qahal ini paling sering diterjemahkan menjadi Ekklesia.

Salah satu contoh transisi konsep ini dapat kita temukan saat Stefanus berkhotbah di dalam Perjanjian Baru, di mana ia menyebut bangsa Israel di bawah pimpinan Musa sebagai "jemaat (ekklesia) di padang gurun" (Kisah Para Rasul 7:38). Dengan demikian, bangsa Israel dalam Perjanjian Lama adalah representasi awal dari konsep gereja: sekelompok orang yang ditebus dari perbudakan Mesir, dikumpulkan di kaki Gunung Sinai, dan diikat dalam perjanjian dengan Allah.

Karakteristik "Gereja" dalam Perspektif Perjanjian Lama

Melalui sejarah Israel di Perjanjian Lama, Tuhan menyingkapkan beberapa pilar utama yang menjadi karakteristik dasar dari jemaat Tuhan yang sejati:

Pilar Teologis Umat Allah:

  • Ditetapkan oleh Kedaulatan Allah (Umat Pilihan): Israel tidak menjadi umat Allah karena kekuatan, jumlah, atau kebaikan mereka sendiri, melainkan murni karena kasih karunia dan kedaulatan pemilihan Allah atas para leluhur (Ulangan 7:7-8). Hal ini paralel dengan gereja masa kini yang dipilih di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan.
  • Diikat oleh Hubungan Perjanjian (Covenant): Inti relasi antara Allah dan umat-Nya di Perjanjian Lama dirangkum dalam formula perjanjian yang agung: "Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku." Perjanjian ini menuntut kesetiaan, iman, dan ketaatan jalannya hukum-hukum Tuhan.
  • Kehadiran Allah di Tengah-tengah Umat (Tabernakel/Bait Suci): Melalui Kemah Suci dan kemudian Bait Allah yang didirikan Salomo, Allah menyatakan kerinduan-Nya untuk berdiam (dwell) di tengah umat-Nya. Kehadiran Shekinah Glory menjadi pusat dari seluruh ritme kehidupan dan ibadah jemaat.
  • Dipanggil untuk Menjadi Berkat bagi Bangsa-bangsa: Sejak panggilan Abraham, tujuan Allah membentuk satu umat yang kudus bukan untuk memonopoli keselamatan, melainkan agar melalui mereka, seluruh kaum di muka bumi mendapat berkat (Kejadian 12:3). Israel dipanggil menjadi saksi dan terang bagi bangsa-bangsa kafir di sekelilingnya.

Dari Bayangan Menuju Kenyataan

Perjanjian Lama adalah bayangan (foreshadow), sedangkan Perjanjian Baru adalah penggenapan kenyataannya di dalam Yesus Kristus. Jika di Perjanjian Lama umat Allah dibatasi oleh batasan etnis, geografis, dan upacara ritual jasmani, maka melalui pengorbanan Kristus di salib, tembok pemisah itu telah dirobohkan.

Kini, gereja yang merupakan kelanjutan rohani dari Qahal Perjanjian Lama, tidak lagi terdiri dari satu bangsa saja, melainkan mencakup setiap orang dari segala suku, bahasa, dan kaum yang telah ditebus oleh darah Anak Domba. Kita adalah Bait Allah yang hidup di mana Roh Kudus berdiam. Namun, panggilan kita tetap sama: menjadi kerajaan imam, bangsa yang kudus, dan umat kepunyaan Allah sendiri yang memberitakan perbuatan-perbuatan besar-Nya di tengah dunia digital dan modern ini.

Doa Hari Ini

Allah Bapa yang setia kepada perjanjian-Mu, kami mengagumi hikmat-Mu yang telah merancang komunitas umat-Mu sejak zaman purbakala. Terima kasih karena melalui sejarah Perjanjian Lama, kami dapat melihat betapa rindunya Engkau untuk mendiami dan menuntun umat-Mu. Sadarkanlah kami, sebagai gereja-Mu di zaman modern ini, akan identitas kami sebagai umat yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang-Mu yang ajaib. Berikan kami hati yang setia menjaga kekudusan, tekun dalam persekutuan, dan rindu untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa di sekitar kami. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja yang sejati, kami berdoa. Amin.

Dapatkan Artikel Rohani di WhatsApp

Bergabunglah dengan WhatsApp Channel Grace Daily untuk menerima renungan teduh dan artikel rohani pilihan setiap hari langsung di ponsel Anda.

Ikuti WhatsApp Channel Grace Daily