Pendahuluan: Sebuah Kisah Yang Lebih Besar
Saudara dan saudari yang terkasih dalam Kristus, seringkali ketika kita membuka Alkitab, kita cenderung melihatnya sebagai kumpulan kisah-kisah terpisah, hukum-hukum, puisi, atau nubuat. Kita mungkin terpesona oleh keberanian Daud, kebijaksanaan Salomo, atau kesabaran Ayub. Namun, jika kita berhenti di sana, kita melewatkan inti dan tujuan utama dari seluruh Kitab Suci. Alkitab bukanlah sekadar kumpulan buku; ia adalah sebuah narasi tunggal yang koheren, yang memiliki satu tokoh sentral, satu tema utama, dan satu tujuan akhir: Yesus Kristus, Injil-Nya, dan kemuliaan Allah.
Dalam Yohanes 5:39, Yesus sendiri berkata kepada orang-orang Farisi,
“Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai hidup yang kekal, namun Kitab-kitab Suci itu justru memberi kesaksian tentang Aku.”Ayat ini adalah kunci fundamental untuk memahami bagaimana kita seharusnya mendekati Alkitab. Setiap halaman, setiap kisah, setiap hukum, setiap nubuat, entah secara langsung atau tidak langsung, menunjuk kepada Yesus.
Mengapa Perspektif Kristosentris Penting?
Teologi yang sehat menuntut kita untuk melihat Kristus sebagai pusat dari segala sesuatu. Tanpa perspektif Kristosentris, kita berisiko mengubah Alkitab menjadi:
- Buku moralitas: Kita hanya mencari teladan baik atau buruk untuk ditiru atau dihindari.
- Buku formula keberhasilan: Kita mencari "kunci" untuk kekayaan, kesehatan, atau kebahagiaan duniawi.
- Kumpulan informasi sejarah: Kita tertarik pada fakta-fakta kuno tanpa melihat relevansinya dengan keselamatan kita.
- Cermin diri: Kita mencari pembenaran atas pandangan atau keinginan kita sendiri, bukan kebenaran Allah.
Ketika kita melihat Yesus sebagai pusat, Alkitab menjadi sebuah kisah tentang penebusan Allah atas umat manusia yang jatuh melalui karya Kristus yang sempurna. Ini mengubah cara kita membaca, memahami, dan menerapkan Firman-Nya.
Bagaimana Menemukan Yesus di Perjanjian Lama?
Mungkin lebih mudah melihat Yesus di Injil dan surat-surat Paulus. Namun, bagaimana dengan Perjanjian Lama? Perjanjian Lama adalah panggung yang disiapkan Allah untuk kedatangan Sang Mesias.
1. Yesus sebagai Bayangan (Tipe)
Banyak tokoh, peristiwa, dan institusi dalam Perjanjian Lama berfungsi sebagai 'tipe' atau bayangan yang menunjuk kepada 'antitipenya' yaitu Yesus Kristus. Contohnya:
- Adam: Adam adalah kepala umat manusia yang membawa dosa dan kematian. Yesus adalah Adam terakhir (Roma 5:12-21), kepala umat manusia yang baru, yang membawa kebenaran dan hidup.
- Nuh dan Bahtera: Bahtera menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari air penghakiman. Yesus adalah bahtera keselamatan kita, yang menyelamatkan kita dari penghakiman Allah.
- Pengorbanan Paskah: Anak domba yang darahnya menyelamatkan Israel dari malaikat maut. Yesus adalah Anak Domba Allah yang sejati (Yohanes 1:29), yang darah-Nya membersihkan kita dari dosa.
- Tabernakel/Bait Allah: Tempat di mana Allah berdiam di antara umat-Nya. Yesus adalah Bait Allah yang sejati (Yohanes 2:19-21), "Imanuel" – Allah beserta kita.
- Manusia di Padang Gurun: Roti dari surga yang memelihara Israel. Yesus adalah Roti Hidup (Yohanes 6:35), yang memberi hidup kekal.
2. Yesus sebagai Penggenapan Nubuat
Ratusan nubuat dalam Perjanjian Lama menunjuk dengan tepat kepada kelahiran, kehidupan, pelayanan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Misalnya, Yesaya 53 dengan jelas menggambarkan penderitaan Hamba Tuhan yang menanggung dosa banyak orang, yang digenapi sepenuhnya dalam Yesus.
3. Yesus sebagai Pemenuhan Hukum
Hukum Musa (10 Perintah Allah dan hukum-hukum lainnya) mengungkapkan standar kesucian Allah dan ketidakmampuan kita untuk memenuhinya. Hukum itu berfungsi sebagai penuntun (paedagogus) yang membawa kita kepada Kristus (Galatia 3:24). Yesus tidak datang untuk meniadakan hukum, tetapi untuk menggenapinya (Matius 5:17). Dia adalah satu-satunya yang hidup dengan sempurna sesuai hukum Allah, dan melalui iman kepada-Nya, kebenaran-Nya diperhitungkan kepada kita.
Menerapkan Perspektif Kristosentris dalam Pembelajaran Alkitab
Bagaimana kita bisa mempraktikkan ini dalam studi Alkitab kita sehari-hari?
- Bertanya, "Di mana Yesus dalam bagian ini?" Setiap kali Anda membaca sebuah bagian, tanyakan pada diri Anda: Bagaimana bagian ini menunjuk kepada Kristus? Bagaimana ia mengungkapkan kebutuhan kita akan Kristus? Bagaimana ia menggenapi janji-janji Allah dalam Kristus?
- Lihatlah Konteks Keseluruhan. Jangan membaca ayat atau pasal secara terisolasi. Pahami bagaimana bagian tersebut cocok dalam narasi besar Alkitab tentang penciptaan, kejatuhan, penebusan, dan pemulihan.
- Fokus pada Injil. Ingatlah bahwa inti Alkitab adalah Injil: kabar baik tentang apa yang telah Allah lakukan bagi kita melalui Yesus Kristus, bukan apa yang harus kita lakukan untuk Allah agar diterima-Nya.
- Berdoalah untuk Pencerahan Roh Kudus. Yesus berkata bahwa Roh Kudus akan bersaksi tentang Dia (Yohanes 15:26). Mintalah Roh Kudus untuk membuka mata rohani Anda agar melihat kemuliaan Kristus dalam Firman-Nya.
- Gunakan Sumber Daya yang Baik. Tafsiran Alkitab, buku-buku teologi, dan kotbah-kotbah yang berpusat pada Injil dapat sangat membantu Anda dalam mengembangkan perspektif ini.
Kesimpulan: Kemuliaan Kristus yang Tersembunyi
Ketika kita mulai melihat Alkitab dengan kacamata Kristosentris, Alkitab menjadi hidup dengan cara yang baru dan mendalam. Setiap kisah, setiap hukum, setiap nubuat, setiap puisi tidak lagi menjadi potongan-potongan terpisah, tetapi menjadi benang emas yang ditenun dengan indah, menunjuk kepada kemuliaan Yesus Kristus.
Ini bukan hanya latihan intelektual; ini adalah sebuah pengalaman transformasi. Ketika kita melihat Yesus dalam setiap halaman, kita tidak hanya belajar tentang Dia, tetapi kita juga semakin mengenal Dia, semakin mengasihi Dia, dan semakin diubahkan menjadi serupa dengan gambar-Nya. Kiranya Allah memberkati studi Alkitab Anda dan membuka mata Anda untuk melihat Yesus, Sang Firman yang hidup, di setiap Firman yang tertulis. Amin.